Imanuel

Views :967 Times

Imanuel

Yesaya 7:14-16 Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel. 15 Ia akan makan dadih dan madu sampai ia tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik, 16 sebab sebelum anak itu tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik, maka negeri yang kedua rajanya engkau takuti akan ditinggalkan kosong.

 

https://thumbs.dreamstime.com/z/amamenta%C3%A7%C3%A3o-23562226.jpg

Ramalan

Tampaknya dunia terobsesi dengan ramalan, ada begitu banyak orang ingin tahu tentang masa depan. Pengetahuan adalah kuasa, pengetahuan tentang masa depan memberi kuasa untuk meraih sukses di masa depan.

Di masyarakat yang percaya dunia mistis, ramalan didapat dari alam gaib. Contoh: horoskop. Di sebuah website disebutkan nasib orang yang ada di bawah bintang Virgo: "Pekerjaan kamu sedang menumpuk saat ini dan rekan-rekan kerja yang menyebalkan membuat kamu semakin tidak betah bekerja. Abaikan saja mereka dan selesaikan pekerjaanmu." Jadi, kunci sukses adalah: "Abaikan rekan kerja! Hiduplah menyendiri, selesaikanlah pekerjaanmu sendiri!" Tak diberikan penjelasan ramalan didapat dari mana, dan apa alasan bagi nasihat yang diberikannya. Akibatnya orang dibimbing untuk bertindak irasional, bertindak tanpa pikir panjang. Orang yang mengikuti nasihat horoskop ini akan terisolasi dari rekan kerja, situasi yang justru membuat kariernya terhambat.

Di masyarakat modern, terdapat jenis ramalan lain, yaitu prediksi masa depan berdasarkan trend di masa kini. Ahli yang bisa membaca trend ini disebut futuris / futurolog. Contohnya, Alvin Toffler, yang membagi sejarah menjadi 3 gelombang perubahan: (1) Revolusi Pertanian. (2) Revolusi Industri. (3) Revolusi Teknologi Informasi.

Perubahan besar ini, menghasilkan buta huruf jenis baru: bukan orang yang tak bisa baca tulis, tapi orang yang tak mampu melupakan proses pembelajaran di masa lalu. Unlearn / melupakan pembelajaran masa lalu, merupakan kunci sukses di zaman yang baru ini. Orang yang bertahan di budaya Revolusi Pertanian, tak bisa sukses di zaman Revolusi Industri. Orang yang bertahan dalam budaya Revolusi Industri, tak bisa sukses di Abad Revolusi Teknologi Informasi. Orang yang melakukan proses unlearn, melupakan budaya Revolusi Pertanian dan Revolusi Industri, bisa mulai belajar budaya Revolusi Teknologi Informasi, dan bisa meraih sukses di masa depan.

Futurolog sedikit lebih baik dibanding tukang ramal mistis. Mereka mengajarkan orang untuk bertindak rasional. Tapi hal ini memberikan efek samping yang buruk: orang terlalu percaya diri, percaya kepada kemampuan diri sendiri untuk mengubah masa depan. Sikap sombong karena kemajuan teknologi, yang justru membawa manusia ke ambang kehancuran seperti kerusakan lingkungan dan konflik sosial antar etnis dan konflik antar golongan kaya – misikin.

Nubuat Yesaya

Nabi Yesaya juga memberikan sebuah nubuat tentang “Imanuel.” Nubuat ini disampaikan Yesaya sebagai pelajaran kepada Ahaz di di abad 8 SM. Pengikut Yesaya membukukan dan menyampaikan kembali nubuat ini sebagai pelajaran bagi umat Israel di tanah pembuangan. Nubuat “Imanuel” adalah sebuah pelajaran universal yang berlaku bagi semua orang.

Sejarahwan menyebut abad 8 SM sebagai axial age. Di abad 8, saat yang hampir bersamaan, di pelbagai penjuru dunia, terjadi perubahan drastis dari sistem tata negara, budaya, dan agama. Beberapa sejarahwan memberi tafsiran bahwa perubahan ini dipicu oleh penguasaan teknologi pertanian. Sebuah Revolusi Pertanian yang disebut Alvin Toffler sebagai gelombang pertama perubahan besar sejarah dunia.

Dari zaman Abraham s/d zaman dinasti Daud, hasil pertanian tak bisa diprediksi. Berulangkali Alkitab mencatat umat Allah mengalami bencana kelaparan. Hasil pertanian tak menentu. Akibatnya bangsa Israel tergoda untuk memuja Baal, bahkan melakukan ritual pelacuran bakti, untuk mendapatkan hasil panen yang baik.

Tapi di abad 8 SM, orang mulai mampu menghitung musim. Di Babel, dengan teknologi batu bata yang baru ditemukan, orang bisa membangun menara tinggi untuk mengamati bintang. Dari pengamatan bintang mereka bisa membuat sistem kalender yang baru. Masyarakat kuno memakai kalender bulan, yang tak bisa dipakai memprediksi musim. Di Babel sekarang mereka bisa memakai kalender Matahari, 1 tahun terdiri dari 365 ¼ hari. Hasilnya perhitungan musim menjadi lebih akurat. Panen melimpah menghasilkan kemakmuran. Kemakmuran menghasilkan waktu luang. Waktu luang dipakai untuk berpikir. Pikiran tajam menghasilkan literatur. Literatur menghasilkan orang2 bijak. Orang2 bijak bisa membuat sistem tata negara yang lebih canggih. Sistem tata negara yang canggih, menghasilkan kerajaan2 besar seperti Mesir, Asyur, Babel, dan Persia.

Tapi celakanya, Israel tertinggal jauh dari Revolusi Pertanian ini. Israel hanyalah sebuah negara kecil, di tengah bangkitnya kerajaan2 besar. Yesaya yang hidup di tengah perubahan zaman ini, seperti seorang pengamat yang berdiri di atas menara tinggi, Yesaya mengamati datangnya musuh2 Israel yang datang dari kejauhan, kerajaan2 besar yang sebentar lagi akan datang menyerbu Israel.

Yesaya menjadi gelisah, tapi di tengah kegelisahan, Yesaya mendapat "penglihatan." Hal yang dilihat bukan hal yang baru, sebelum mendapat penglihatan, kerajaan2 besar datang mengancam Israel. Setelah mendapatkan penglihatan, hal yang sama tetap akan terjadi. Walaupun demikian, "penglihatan" memberi sebuah "perspektif" yang baru. Proses bergulirnya sejarah di lihat dari perspektif sorgawi.

Kitab Ulangan melihat sejarah dari perspektif bumi. Sejarah berkembang tergantung respon manusia. Jika Israel taat, mereka diberkati, menjadi bangsa yang hebat. Jika Israel tidak taat mereka dikutuk, bahkan bisa sampai kehilangan Tanah Perjanjian.

Tapi Yesaya mendapatkan perspektif sorgawi. Allah telah menetapkan rencana-Nya sejak dari semula, tidak tergantung respon manusia. Dari semula Allah telah menetapkan: Kerajaan2 Besar akan bangkit, bahkan mereka akan menguasai Israel. Rencana Allah yang tadinya tersembunyi, sekarang disingkapkan-Nya melalui Yesaya, seperti yang tertulis di Yes. 41:27-28, "Sebagai yang pertama Aku memberitahukannya kepada Sion, dan Aku memberikan orang yang membawa kabar baik kepada Yerusalem. Apabila Aku melihat berkeliling, maka tidak ada seorangpun, dan di antara semua mereka ini tidak ada yang dapat memberi petunjuk, atau yang dapat memberi jawab kalau Aku menanyakan mereka."

Setidaknya ada beberapa hal yang bisa kita pelajari dari penyingkapan rencana Allah ini:

1. Allah ingin memurnikan Israel. Ketika Yesaya melihat penglihatan dari Allah, dia berkata, "Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir ..." (Yes. 6:5). Tapi anehnya, pengakuan dosa Yesaya, tidak diiktui ritual kurban penghapus dosa. Sebaliknya, Serafim mengambil bara api dari mezbah, dan menempelkannya ke mulut Yesaya. Bukan kurban yang dibakar di atas mezbah, tapi bibir Yesaya yang dimurnikan dengan api. Kepada umat di tanah pembuangan, Tuhan juga berkata dalam Yes. 48:10, "Sesungguhnya, Aku telah memurnikan engkau, namun bukan seperti perak, tetapi Aku telah menguji engkau dalam dapur kesengsaraan." Kehancuran Israel, dan pembuangan ke Babel, adalah proses pemurnian yang sudah direncanakan Allah. Kita semua harus dimurnikan. Walaupun kita mengaku Allah dengan lidah bibir kita, dan kita tampak saleh, setia melakukan ritual agama, tapi di dalam hati kita tidak mengakui kedaulatan Allah. Kita semua menjalankan keinginan hati masing2. Yes. 53:6 berkata, "Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri ..." Kita semua memiliki keinginan hati yang bertentangan satu sama lain. Pertentangan keinginan hati menciptakan konflik. Konflik menghasilkan peperangan. Peperangan seperti api yang memakan habis bangsa2. Allah mengizinkan konflik dan peperangan terjadi, seperti yang dikatakan Amsal 27:17 "Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya." Konflik dan peperangan menyingkapkan dan mengikis habis motivasi hati yang tak murni. Sampai kita kehilangan segalanya, dan hanya tersisa 1 hal yang paling penting di hadapan Allah: yaitu isi hati kita.

2. Pembuangan ke Babel merupakan proses unlearn, melupakan pembelajaran di masa lalu. Ketika Ahaz dikepung oleh Rezin dan Pekah, dia berusaha menguasai sejarah dengan permainan politik, mengadu domba mereka dengan Kerajaan Asyur yang jauh lebih besar. Yesaya datang, memberitakan tanda "Imanuel" kepada Ahaz. Tanda yang diberikan adalah seorang anak yang baru lahir. Anak ini tak tahu apa2, tak mampu “menolak yang jahat dan memilih yang baik.” Pekerjaan anak ini hanya makan dadih dan madu pemberian orang tuanya. Tapi “sebab sebelum anak itu tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik, maka negeri yang kedua rajanya engkau takuti akan ditinggalkan kosong.” Dalam kurun waktu kurang dari 3 tahun, Rezin dan Pekah yang mengancam Yehuda, akan hancur dengan sendirinya. Tanpa usaha keras dari Yehuda. Nubuat Yesaya ini dibukukan, dan disampaikan kepada bangsa Israel yang ada di Tanah Pembuangan, sebagai sebuah tanda. Dalam kurun waktu kurang dari 3 generasi, Pembuangan Babel akan segera berakhir, tanpa usaha keras dari Yehuda. Umat harus melakukan proses unlearn, melupakan pembelajaran masa lalu yang sudah tak bisa dipakai lagi. Sebelumnya di zaman Daud, umat berperang dengan kekuatan senjata, menjadikan Israel bangsa yang hebat. Sekarang mereka harus bersandar kepada kuasa Allah, tanpa tindakan manusia, seperti seorang anak kecil, yang tidak bisa berbuat apa2. Proses unlearn ini tidak mudah, ada baiknya kita mengikuti doa Reinhold Niebuhr: "God grant me the serenity to accept the things I cannot change, the courage to change the things I can, and the wisdom to know the difference." "Tuhan berikan kepada-ku ketenangan untuk menerima hal yang tak bisa saya ubah, keberanian untuk mengubah hal yang saya bisa ubah, dan hikmat untuk mengetahui perbedaannya." Perubahan zaman tak bisa saya ubah, juga tak bisa saya kuasai, tapi diri sendiri bisa saya ubah, kiranya Tuhan memampukan saya untuk bisa melakukan proses unlearn, mengubah diri sendiri untuk sepenuhnya bergantung kepada Tuhan seperti seorang anak kecil.

3. Sikap seperti anak kecil merupakan sebuah kesaksian. Yehuda akan ditawan dan dibawa ke tanah pembuangan. Tapi kehancuran Yehuda, bukan sebuah peristiwa yang memalukan. Yes. 9:1 justru berkata, “Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar.” Kita lebih suka bersaksi sebagai orang hebat. Orang tua berkata kepada anaknya, "garam yang saya makan lebih banyak dari nasi yang kamu makan!" Orang tua dengan pengalaman hebat bersaksi kepada anaknya. Negara maju memberikan bantuan kepada negara miskin, tapi bantuan selalu diikuti kesaksian: "Ikuti sistem pemerintahan kami yang hebat, sehingga negaramu bisa maju seperti negara kami!" Tapi kesaksian seperti ini bukan rencana Allah bagi Kerajaan-Nya! Kita harus bersaksi tentang Kerajaan Allah, tentang Allah yang berdaulat dan memerintah langit dan bumi. Jika saksi datang sebagai orang hebat, maka isi kesaksian adalah kehebatan sang saksi. Kita bersaksi tentang Allah yang berdaulat. Kesaksian melalui lidah bibir diperkuat dengan kenyataan hidup. Kita tunduk kepada Allah, bahkan ketika Dia memerintahkan kita masuk ke dalam penderitaan. Kita tak membantah, tidak ber-sungut2, seperti yang dikatakan Yes. 53:7, "Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya." Ketika kita melakukannya, Yes. 9:5 berkata, "Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai." Kita seperti anak kecil yang tak berdaya, tapi di dalam ketaatan, kita disebut "Imanuel," Allah hadir di tengah kita. Kita menjadi penyandang nama Allah, pemerintahan Allah telah dijalankan di dalam diri kita. Melalui ketaatan di tengah penderitaan, bangsa2 lain yang ada di tengah kegelapan telah melihat terang yang besar.

Penutup

Allah berkata, rencana-Ku sudah Ku-singkapkan. Zaman akan berubah dengan dahsyat. Umat Allah akan masuk ke dalam penderitaan di tengah konflik dan peperangan antar bangsa. Siapakah yang akan Ku-utus untuk menjadi penyandang nama Allah, Imanuel, Allah beserta kita? Siapakah yang akan Ku-utus menbawa Firman Tuhan kepada orang yang punya mata tapi tak melihat, punya telinga tapi tak mendengar?

Sekarang, mereka tak akan mendengar pemberitaan-mu, tapi satu hari nanti, setelah konflik dan peperangan menghancurkan segalanya. Di saat itulah mereka ingat akan pemberitaan-mu tentang kedaulatan Allah.

Allah bertanya, siapakah yang akan Ku-utus? Apa jawabmu?

Iwan Tanusaputra, M.Th.

Dosen Bahasa Ibrani & Biblika

STT Bandung

 

Kontak Info

Jalan Dr. Junjunan No. 105
Bandung 40173, Indonesia
ph : (+62) 22 601 - 6454
fax : (+62) 22 607 - 7921
e-mail : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.