Pendidikan Karakter: Kontroversi Penyamaan Persepsi.

Views :3342 Times

 

Maraknya tindakan amoral yang dilakukan oleh generasi muda saat ini mau tidak mau menghasilkan keprihatinan mendalam dari semua kalangan. Kondisi ini membawa kesepakatan bahwa sudah saatnya pendidikan karakter dilaksanakan secara sistematis, strategis dan menyeluruh di sekolah sehingga pendidikan karakter menjadi efektif dalam pembentukan pribadi para siswa.

Gencarnya desakan dan dorongan dari masyarakat akan urgensi pendidikan karakter dalam pendidikan nasional menunjukkan ketidakpuasan masyarakat akan kualitas lembaga pendidikan di Indonesia. Di balik semua ini, harus disadari bahwa membahas gagasan tentang pendidikan karakter tidaklah sesederhana ketika kita mendesakkan atau membicarakannya.

Secara etimologis ada yang menjelaskan kata karakter (Inggris: character) berasal dari bahasa Yunani yaitu charassein yang berarti toengrave, kata ini bisa diterjemahkan mengukir, melukis, memahatkan atau menggoreskan. Pendapat lain mengatakan bahwa istilah karakter berasal dari bahasa Yunani karaso (cetak biru, format dasar, sidik jari). Definisi ini jelas menunjukkan bahwa karakter ternyata telah dibawa oleh manusia sejak hadirnya ke dalam dunia. Dalam penjelasannya tentang definisi karakter, Prof. Dr. Muchlas Samani, mengutip beragam pendapat ahli tentang hal ini. Kamus besar bahasa Indonesia memberi pengertian karakter dapat kita lihat dalam catatan di bawah. Sebagai pembanding,the webster’s dictionary memberikan penjelasan tentang hal ini. Berhadapan dengan ambiguitas etimologi "karakter" ini Mounier mengajukan dua cara interpretasi. Menurut Lickona, karakter berkaitan dengan konsep moral (moral knowing), sikap moral (moral felling) dan perilaku moral (moral behavior). Berdasarkan ketiga komponen ini dapat ditegaskan bahwa karakter yang baik didukung oleh pengetahuan tentang kebaikan, keinginan untuk berbuat baik dan melakukan perbuatan kebaikan.

Doni Koesoema, melihat karakter sebagai kondisi dinamis struktur antropologis individu yang tidak mau sekedar berhenti atas determinasi kodratnya, melainkan juga sebuah usaha untuk hidup semakin integral mengatasi determinasi alam dalam dirinya demi proses penyempurnaan dirinya secara terus menerus. Senada dengan hal ini, Prof. Dr. Muchlas Samani, menyimpulkan bahwa karakter dimaknai sebagai nilai dasar yang membangun pribadi seseorang, terbentuk baik karena pengaruh hereditas maupun pengaruh lingkungan, yang membedakannya dengan orang lain serta diwujudkan dalam sikap dan perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Pengertian ini dapat dimaknai bahwa karakter identik dengan akhlak. Dengan demikian karakter merupakan nilai -nilai perilaku manusia yang universal meliputi seluruh aktivitas manusia, baik dalam rangka dengan dirinya, dengan sesamanya, bahkan dengan Tuhannya, maupun dengan lingkungannya, yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perilaku berdasarkan norma agama, hukum, tatakrama, budaya/tradisi, dan adat istiadat. Pengertian demikian ini jelas memungkinkan terbentuknya formulasi pendidikan karakter dalam lingkup sekolah. Dengan kata lain, dari konsep karakter inilah muncul konsep pendidikan karakter(character education)

Penyelidikan sekilas tentang etimologis “karakter” ini menegaskan bahwa pemahaman tentang karakter tidak hanya berangkat dari pengertian akan istilah, tetapi juga menemukan keberadaan atas karakter itu sendiri. Berkaitan dengan keberadaannya, karakter ternyata secara umum dipahami setidaknya dengan dua konsep: ia telah dibawa dari lahir, kedua merupakan hasil dari didikan. Jika kita menerima karakter itu tidak diwariskan tapi dibawa dari lahir bahkan seperti sidik jari, konsekuensinya adalah sulit rasanya kita merancang apa yang disebut pendidikan karakter di sekolah yang diharapkan dapat mengubah perilaku siswa. Sebaliknya jika kita memahami karakter adalah sesuatu tabiat yang dapat diatur dan diciptakan maka memunculkan persoalan baru mengapa banyak pendidik gagal menciptakan pribadi yang sesuai dengan karakter yang diajarkannya?

Secara terminologis, makna karakter banyak dibahas dan dikemukakan oleh Thomas Lickona. Dalam penjelasannya, karakter mulia (good character) meliputi hal-hal dasar seperti pengetahuan tentang kebaikan, lalu menimbulkan komitmen (niat) terhadap kebaikan, dan akhirnya benar-benar melakukan kebaikan. Dalam bukunya pendidikan karakter, Lickona memperlihatkan beberapa kualitas moral, ciri karakter yang membentuk pengetahuan moral, perasaan moral dan perbuatan moral(lihat diagram dibawah). Melihat rangkaian komponen karakter yang baik berdasarkan diagram ini maka karakter mengacu kepada serangkaian pengetahuan (cognitives), sikap (attitides), dan motivasi (motivations),serta perilaku (behaviors) dan keterampilan (skills).

Menurut banyak praktisi pendidikan, terminologi pendidikan karakter mulai dikenalkan sejak tahun 1900-an. Thomas Lickona dianggap sebagai tokoh pengusungnya, terutama ketika ia menulis buku The Return of Character Education dan Educating for Character: How Our School Can Teach Respect and Responsibility. Melalui buku-buku ini, ia menyadarkan dunia Barat akan pentingnya pendidikan karakter. Pendidikan karakter menurut Lickona mengandung tiga unsur pokok, yaitu mengetahui kebaikan (knowing the good), mencintai kebaikan (desiring the good),dan melakukan kebaikan (doing the good). Tindakan moral menurutnya adalah produk dari dua bagian karakter lainnya.

Menurut Doni Koesoema, pendidikan karakter adalah usaha sadar manusia untuk mengembangkan keseluruhan dinamika relasional antar pribadi dengan berbagai macam dimensi, baik dari dalam maupun dari luar dirinya, agar pribadi itu semakin dapat menghayati kebebasannya sehingga ia dapat semakin bertanggung jawab atas pertumbuhan dirinya sendiri sebagai pribadi dan perkembangan orang lain dalam hidup mereka berdasarkan nilai-nilai moral yang menghargai kemartabatan manusia. Hal ini senada dengan apa yang diungkapkan oleh Lickona. Penekanan pada "usaha sadar dan sengaja" merupakan ciri khusus dari praksis pendidikan karakter. Pendidikan karakter tidak sekedar mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah kepada anak, tetapi juga menanamkan kebiasaan (habituation) tentang yang baik sehingga peserta didik paham, mampu merasakan, dan mau melakukan yang baik, semua ini merupakan usaha secara sengaja dan sadar. Proses pendidikan karakter dipandang sebagai usaha sadar dan terencana bukan usaha yang sifatnya terjadi secara kebetulan. Atas dasar ini, pendidikan karakter adalah usaha yang sungguh untuk memahami, membentuk, memupuk nilai-nilai etika, baik untuk diri sendiri maupun untuk semua warga masyarakat atau warga negara secara keseluruhan.

Pendidikan karakter menjadi vital dan tidak ada pilihan lain untuk mewujudkan Indonesia cerdas dan bermoral. Hal ini penting segera direncanakan dan dirancang dalam konteks sekolah menghadapi tantangan regional dan global. Sebagai upaya sengaja, maka diperlukan kecermatan dan evaluasi objektif dalam pelaksanannya pendidikan karakter. Kesadaran akan pentingnya pendidikan karakter yang disebut sebagai gerakan masal dalam konteks Amerika hendaknya menjadi gerakan positif khususnya dalam konteks pendidikan Kristen di Indonesia.

STULOS 12/1(April 2013)65-96

 

Heriyanto, M.Th.

Dosen

STT Bandung

Kontak Info

Jalan Dr. Junjunan No. 105
Bandung 40173, Indonesia
ph : (+62) 22 601 - 6454
fax : (+62) 22 607 - 7921
e-mail : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.