Janji untuk Hidup Berintegritas

Views :2355 Times

Mazmur 101 merupakan janji yang berusia sekitar 3000 tahun. Jika Mazmur ini ditulis oleh Daud, sesuai judulnya, maka kemungkinan besar Daud mengarangnya untuk upacara penobatan Salomo menjadi raja. Saat itu Daud sudah berada di penghujung hidupnya dan ia mengingatkan Salomo tentang janji Allah mengenai kerajaannya yang akan bertahan selamanya, asalkan keturunannya hidup dengan setia di hadapan-Nya seperti yang dinyatakan di dalam Taurat Musa (Ulangan 11:1, bandingkan dengan 5:33, 8:6, 10:13). Di dalam nasihat Daud ini terdapat empat istilah yang secara umum sinonim mengenai kewajiban- kewajiban dari suatu perjanjian: "Lakukanlah kewajibanmu dengan setia terhadap TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya, dan dengan tetap mengikuti segala KETETAPAN, PERINTAH, PERATURAN dan KETENTUAN-Nya, seperti yang tertulis dalam hukum Musa, supaya engkau beruntung.... dan supaya TUHAN menepati janji yang diucapkan-Nya tentang aku, ....maka keturunanmu takkan terputus dari takhta kerajaan Israel." (1 Raja-Raja 2:3-4).

Namun kita tahu dari sejarah Israel bahwa baik Salomo maupun keturunannya gagal untuk menaati kewajiban yang dinyatakan dalam perjanjian ini. Akibatnya kerajaannya pecah menjadi Israel (Kerajaan Utara) serta Yudea (Kerajaan Selatan) dan bahkan dibuang. Namun, bagaimana dengan janji yang dinyatakan oleh Salomo pada hari penobatannya? Apakah Salomo benar-benar serius dengan apa yang dinyatakannya?


Salomo bermaksud melaksanakan janjinya. Namun ia lalu terjebak di dalam kesenangan-kesenangan pribadinya dan kepada budaya di sekelilingnya akibat pengaruh dari para wanita asing yang menjadi istri-istrinya, yang memang berasal dari kerajaan-kerajaan tetangga. Benar, menikahi banyak wanita merupakan praktik umum di Timur Tengah Kuno. Praktik ini menjadi semacam segel bagi suatu hubungan internasional. Namun, memiliki banyak istri merupakan pelanggaran terhadap perjanjian dengan Allah, khususnya jika mereka berasal dari bangsa-bangsa di luar Israel (Ulangan 17:17 bandingkan: 7:13, Keluaran 34:16, Yosua 23:12-13, Ezra 9:2, 10:2-3, Nehemia 13:23¬27). Teks Firman dengan jelas mengatakan bahwa para wanita itu "mencondongkan hatinya kepada allah-allah lain, sehingga ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada TUHAN, Allahnya,..." (1 Raja-Raja 11:4).


Tidak semua raja merupakan raja yang buruk di Yudea. Ada beberapa penguasa yang baik seperti Yosafat, Hizkia, dan khususnya Yosia yang telah melakukan reformasi besar dengan melakukan pembersihan menyeluruh dari berhala-berhala yang ada di Yudea. la lalu memimpin bangsanya itu untuk memperbaharui perjanjian mereka dengan Allah (2 Raja-Raja 23). Namun, mayoritas dari para pemimpin Israel dan Yudea telah gagal menaati berbagai kewajiban dari perjanjian dengan Allah yang mengakibatkan pembuangan Israel di awal abad ke-8 (722 SM) dan Yudea di akhir abad ke-6 (586 SM), yang diikuti oleh berakhirnya kerajaan Israel serta Yudea dan pembuangan mereka ke negeri-negeri asing.


Kevin J. Vanhoozer, berpendapat teologi bertujuan pada tercapainya pengetahuan akan Allah dan bersifat kontekstual. Ia meyakini bahwa baik theoria (pengetahuan akan proposisi yang benar) maupun techem (pengetahuan atau keterampilan fungsional) tidak cukup bagi sebuah interpretasi teologis. Karena itu ia mengusulkan cara ketiga yang disebutnya sebagai phronesis, yaitu "kemampuan untuk menerapkan penilaian yang baik dalam konteks yang spesifik. Dengan kata lain, teologi adalah hikmat atau kemampuan untuk mengatakan atau melakukan hal yang tepat dalam situasi yang spesifik."


Sejak saat itu, kerajaan Israel tidak pernah berdiri kembali. Bahkan Israel sebagai bangsa pun lenyap total karena mereka menolak Mesias yang datang untuk membangun Kerajaan Allah yang sesungguhnya di muka bumi ini.


Apa yang salah dengan Israel?


Pertama, Israel telah salah memahami panggilan Allah sebagai "harta kesayangan-Nya ... kerajaan imam dan bangsa yang kudus". Sebagai bangsa, tugas Israel adalah mewakili pemerintahan Allah di bumi dan sebagai suatu bangsa, melayani Dia sebagai imam (Keluaran 19:5-6). Namun Israel ingin menjadi seperti bangsa-bangsa lain dan memiliki seorang raja (1 Sam. 8:5). Tuhan mengijinkan hal itu tapi tanpa mengkompromikan panggilan Israel sebagai bangsa yang kudus. Karena itu raja-raja Israel menjadi "wakil-raja" yaitu memerintah di bawah pengarahan Allah dan dengan cara Allah. Setiap raja harus membuat salinan hukum yang berisi poin-poin perjanjian dengan Allah tersebut (Ulangan 17:18-20). Karena itu raja Israel harus menjadi wakil Allah ketika ia menjalankan pemerintahannya. Ini berarti Allah sendirilah yang akan maju berperang ketika bangsa itu diserang oleh para musuhnya. la akan menunjukkan diri- Nya sebagai Allah dari segala allah dan Raja dari segala raja. Namun yang terpenting adalah bahwa Israel harus menghidupi perintah-perintah Allah tersebut sehingga bangsa-bangsa lain akan ikut tertarik kepada Allah. Dengan demikian, kerajaan-kerajaan di dunia ini pun dapat menjadi Kerajaan Allah.

Kedua, raja-raja Israel tidak akan ditinggikan seperti halnya raja-raja dari kerajaan asing yang mengklaim diri mereka sebagai anak-anak dari para allah mereka (seperti yang terjadi di Mesir, Babilonia dan di seluruh daerah TimurTengah Kuno). Pada saat itu, jika mereka dikalahkan oleh musuh maka itu berarti allah-allah mereka juga ikut dikalahkan. Hal ini pun dianut oleh bangsa Yunani, Romawi, China dan Jepang, dimana penyembahan kepada kaisar merupakan keharusan selain juga penyembahan kepada para allah. Ide ini kemudian disesuaikan bahkan diadopsi oleh raja-raja Israel (Maz 2:6-7) tanpa melibatkan unsur yang ilahi di dalamnya. Padahal, para raja Israel ini seharusnya menganggap diri mereka setara dengan rakyat biasa (Ulangan 18:20). Karena itu ketika para hakim dan penguasa Israel dipanggil sebagai allah (Maz. 58:1, 82:6, bandingkan: Kel. 21:6, 22:8-9, 28), ini berarti mereka memerintah atau menghakimi berdasarkan penunjukan oleh Allah, terlepas dari apakah mereka mengakuinya atau tidak. Hal ini pun berlaku kepada para penguasa yang tidak mengenal Allah (Yesaya 45:1, Dan. 4:32, bandingkan: Roma 13:1-2).


Ketiga, apa arti dari semua ini bagi kepemimpinan Kristen? Hal ini dinyatakan secara baik sekali dalam janji Salomo bagi adanya pemerintahan yang adil (Maz. 101). Ketika merayakan melalui mazmur dan penyembahan, Salomo berjanji bahwa ia akan menjadikan dua kualitas utama dari pemerintahan Allah, yaitu keadilan dan kebenaran, sebagai model dari pemerintahannya. Dengan doa yang sungguh-sungguh, Salomo memohon kepada Allah untuk menolongnya dalam memenuhi janjinya itu (ayat l-2a, bandingkan dengan Maz. 72 yang merupakan mazmur lainnya dari Salomo). Pertanyaannya adalah, seberapa pentingnya keadilan di tengah masyarakat? Kitab Mazmur memberikan jawaban yang paling jelas terhadap pertanyaan ini.


Keadilan bukanlah sesuatu yang khusus ditemukan oleh bangsa Israel karena hal ini bersifat universal, terlepas dari budaya, suku, dsb. Namun intensitas dan keterpusatan dari keadilan dan kebenaran merupakan landasan utama di dalam tradisi Israel. Bahkan ranah kosmis-pun bergantung kepada keadilan di dalam tatanan sosialnya. Di Maz. 82:2-7, Allah mengutuk sampai mati semua berhala yang diklaim oleh raja-raja kafir sebagai yang memerintah di kerajaan-kerajaan mereka. Ketika keadilan tidak dipertahankan maka fondasi bumi akan tergoncang dan dunia manusia tercerai berai. Dengan demikian, keadilan bukan hanya salah satu kebajikan atau tuntutan etika, tapi merupakan klaim akan keilahian dari berhala-berhala itu. Karena itulah Allah menyatakan otoritas-Nya atas berhala-berhala ini dan menyatakan kehancuran mereka.


Masa kini tidak berbeda dengan masa lalu meskipun sekarang terjadi perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan berbagai ilmu lainnya seperti hukum, psikologi, perilaku manusia, dsb. Namun tatanan sosial modern tidak lebih baik dari masa pra-ilmu pengetahuan dalam hubungannya dengan keadilan dan kebenaran di dalam masyarakat. Meskipun demikian, Allah setia di dalam janji-Nya. la membangun kerajaan-Nya dengan imamat yang kudus (1 Pet. 2:4-5,9) yang berada di bawah pemerintahan Kristus. Hal itu menyebabnya adanya perbedaan dalam kemanusiaan di seluruh bangsa dan budaya, sehinga kerajaan-kerajaan di dunia ini pada akhirnya akan menjadi Kerajaan Allah dan menjadi milik Kristus. Kepemimpinan adalah kuncinya!


Augutine Pagolu, Ph.D.

DosenSTT Bandung,
pakar Perjanjian Lama.

Kontak Info

Jalan Dr. Junjunan No. 105
Bandung 40173, Indonesia
ph : (+62) 22 601 - 6454
fax : (+62) 22 607 - 7921
e-mail : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.